Ke depan, selain penyempurnaan kecerdasan Pantunin, juga masih akan menambahkan fitur komunitas, kurasi pantun pengguna, hingga integrasi lintas platform. “Ini baru awal. Kami ingin ini jadi gerakan bersama,” kata Yaser.
Dukungan pun mulai berdatangan. Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, bahkan menyampaikan apresiasinya lewat pantun. Sementara pengamat media sosial Ismail Fahmi memberi catatan sederhana: perbanyak distribusi di media sosial agar rasa penasaran publik tumbuh.
Dan mungkin, memang di situlah kuncinya. Pantun tidak perlu dipaksa kembali. Cukup dihadirkan… di tempat orang-orang sudah berada. Di layar. Di genggaman. Di keseharian.
