Khatib yang naik mimbar Jumat, 1/3/19 masih muda. Ia berkopiah putih dibalut sorban. Berbaju gamis putih panjang ia menguraikan syariat silaturahmi dan hikmahnya. Isi khutbah tersebut diperkuat dengan lantunan ayat Quran yang menyitir bahwa umat Islam adalah umat terbaik, karena menyuruh kepada kebaikan serta mencegah segala kemaksiatan.
Pengalaman pertama shalat Jumat di Bandar Sri Begawan, terasa sama dengan di Kampung Sungai Raya Dalam atau sebagian besar mesjid Indonesia. Ada maasyiralnya. Yakni pembacaan hadits bahwa khutbah Jumat sama dengan empat rakaat Zuhur. Oleh karena itu simak dengan seksama, jangan bercakap cakap. Jika bercakap cakap, maka sia sialah shalat Jumatnya.
Pada saat bersama staf KBRI dikatakan bahwa isi khutbah Jumat adalah sama di seluruh Brunei. Teks khutbah dikeluarkan oleh tim ulama yang khusus menyusun hal tersebut. Jadinya seragam. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang mana khatib bebas menyampaikan gagasan gagasannya. Tetapi tetap dalam konteks menegakkan yang makruf dan mencegah kemungkaran.
Uniknya, sebelum azan Jumat dikumandangkan, ada shalat hajad dua rakaat yang dilakukan berjamaah. Isi hajad tergantung daripada doa masing-masing, tetapi sesuai shalat, Imam membimbing doa bersama. Di dalam doa itu ada permohonan bimbingan Allah buat keselamatan bangsa, negara, dan Sultan.
