Ancaman kepunahan sudah sedemikian besar dan mengerikan, bisa diatasi dengan menumbuhkan kecintaan pada bahasa dan menggiatkan dokumentasi dan penulisan dalam bahasa ibu.
Yang menarik, kedua narasumber seperti seiya kata kala mengingatkan tugas pengarang, penulis, mengenai penyelamatan bahasa ibu.

Pengarang dapat memulai penyelamatan dengan membuat karangan dalam bahasa daerah. Melalui kegiatan itu, dokumentasi bentuk bahasa bisa dilakukan dan bisa menjadi corpus data bahasa di kemudian hari.

Memang tidak mudah, tetapi, hal ini bisa dilakukan. Dedy sendiri sudah merintis hal itu. Dia, bersama penulis di Kalbar menerbitkan buku cerpen berbahasa daerah “Roming Kontrak”.

Beni sendiri sudah mencoba dengan metodenya sendiri, Metode Rois, untuk mengembangkan tradisi tulis.

Lalu, kita, apa yang dapat dilakukan dalam situasi itu? (*)