Oleh: Saripaini
Bahasa Ibu? Sebenarnya bahasa ibu saya yang mana? Bahasa Bugis atau Bahasa Melayu? Pertanyaan yang telah saya ketahui jawabannya itu, kerap melintas di benak, bahkan secara berjenaka saya kerap mengutarakan kebingungan tersebut.
Lahir dan dibesarkan di keluarga Bugis, keluarga yang boleh dikatakan masih memakai identitas Bugis. Tapi, tidak pandai berbahasa Bugis (lebih tepatnya tidak bisa menuturkan). Ya, di rumah, kami memakai bahasa Melayu sebagai bahasa rumah tangga. Terkecuali datok dan bapak saat berkomunikasi berdua. Sementara saya hanya menjadi pendengar. Terkadang saya paham mengenai isi pembicaraan mereka, tapi saya tak pernah menyambung dengan bahasa yang mereka pakai. Itulah kesalahan yang baru saya sadari.
Bahasa ibu terkadang menjadi bahasa sandi antara saya dan emak agar tidak dipahami adek misalnya ketika mamak ingin pergi.
Kemudian beberapa teman bapak juga sering mengawali pembicaraan dengan bahasa Bugis saat berbicara kepada saya.
“Pigi ambokmu?” tanyanya yang berarti, “Mana bapakmu?
“Baru gak die pegi.” Jawabku dengan bahasa Melayu.
“Lekka Pigi alena?” jawabnya lagi dengan bahasa Bugis yang berarti,
“kemana dia pergi”.
“Kurang tau. Ade pesan ke? Nanti kalau bapak udah balek kite kabarkan.” Jawabku.
