Terkadang mereka menitipkan pesan dengan bahasa Bugis dengan panjang lebar kemudian saya menyimpulkan apa maksudnya dengan bahasa Melayu kepada takut keliru. Nyaris selalu begitu.
Kelas 10 SMA. Ya, itulah pertama kali saya tertarik untuk membiasakan berbahasa Bugis, pasalnya saat itu saya sebangku dengan seorang wanita Bugis yang selalu menuturkan bahasa Bugis ketika berbicara kepada saya. Ya, saya berani pastikan bahwa Karin (wanita Bugis) adalah orang pertama yang mendengarkan saya menuturkan dalam sebuah kalimat. Walau tidak sering.
Lanjut cerita, rasa ingin tahu itu diam-diam terpompa lagi setelah bergabung ke Club Menulis IAIN Pontianak, bukan karena anggota CM seperti Karin yang senang menuturkan bahasa Bugis, tapi setelah bergabung di CM, saya pribadi merasa mendapatkan suntikan motivasi untuk terbiasa menuturkan bahasa ibu yang telah lama hilang, di sini saya mulai memahami pentingnya mempertahankan identitas.
Oleh sebab itu, dalam beberapa kesempatan saya dan Tuti membiasakan berkomunikasi dengan bahasa Bugis (kami sama-sama belajar membiasakan) kalau berbicara dengan Tuti rasanya saya tidak canggung, selain sama-sama belajar, toh Tija, Bang Man, Novie dan Mita tidak akan tahu kalau kami salah. Maklum masih belajar. Hehe.
“Selamat hari bahasa ibu internasional”.
Punggur Kecil, 21 Februari 2018
