Pilgub Jakarta sudah selesai. Gubernur terpilih sudah dapat diraba. Kini, semua pihak berusaha menatap ke depan.
Melupakan pertarungan, menata perasaan yang marah dan kecewa.
Meskipun pesta demokrasi Jakarta sangat jauh di sana, dan tidak berkaitan langsung dengan kita di sini –orang Kalbar, namun bahang panas terasa di sini. Banyak orang kita sedemikian antusias mengikuti dan menceburkan diri dalam perhelatan itu.
Tanpa sadar kita merasa ikut sibuk menyiapkan pesta. Sibuk memikirkan gawai yang berlangsung di sana. Sibuk juga mengurus sesuatu yg bukan urusannya.
Malangnya kesibukan di sana bukannya bantu diringankan. Justru hiruk pikuk di sana dibawa ke sini.
Alhasil, hiruk pikuk di sana, hiruk pikuk juga di sini. Media sosial menjadi kotak sampah semua hal, terutama sumpah serapah dan ungkapan kebencian serta kekecewaan.
Sekarang, hiruk pikuk di Jakarta itu sudah lewat. Gawai di Jakarta sudah usai. Orang-orang Jakarta berusaha menautkan kembali belah yang terbuka. Menjahit luka yang menganga. Memadamkan emosi yang sempat membara.
Kita di sini bagaimana? Itulah pertanyaan reflektif untuk kita semua.
Seharusnya kita juga ikut mereda. Seharusnya kita juga belajar dari Jakarta. Menjadikan hiruk pikuk di sana pelajaran berharga.
