Pontianak Pasang Rob
Air sedikit jadi sahabat, tapi ketika meluap bisa jadi “kiamat”.
Air adalah indikator alam sebagai buku pelajaran. Kapan dia menguap menjadi awan dan turun hujan. Kapan hujan melimpas dan disambut banjir bandang. Kita harus punya hitung-hitungan. Dan hitung-hitungan tak bisa sendiri. Sebab awan di angkasa. Bisa timpa siapa saja. Maka harus kolektif kolegial menjaga alam. Tak boleh rakus dan serakah. Juga tidak berkah.
Hitung-hitungan kolektif kolegial itulah gotong royong era kekinian. Berjamaah istilahnya.
Banjir rob di pinggiran Kapuas adalah lampu kuning climate change. Dampak global tipisnya hutan. Meluasnya sawit. Jerit tangis habitat yang hilang…
Mumpung masih belum menjadi bencana, mari kita bersihkan hati, pikiran, ambil tindakan menanam seraya merawat yang masih bersisa. Juga bersihkan sampah dari selokan. Terutama plastik.
Bersama kita saling ingat mengingatkan…bencana ada di hadapan. Ketika datang, tak pakai tunggu sedetik dan pangkat atau jabatan. Ambyarrr. Modarrrr. *
