Oleh: Anshari Dimyati *
[“Carilah pemimpin daerah yang mampu membuat bergaining di hadapan pusat. Pusat tak boleh serta merta mendikte seakan-akan daerah tak mampu mengelola infrastrukturnya, tak mampu menata kehidupan pembangunannya. Kita patut jeli melihat persoalan antara pembagian kewenangan antara pusat dan daerah. Bila ingin dianggap penting oleh pusat, kita harus mampu melihat “standing” atau kedudukan permasalahan bangsa yang terjadi. Yaitu keadilan. Itulah esensi dari reformasi yang sudah kita capai dalam rentang waktu 19 tahun ini. Negara ini bukan milik orang-orang di Jakarta, tapi milik kita semua di Indonesia, termasuk di daerah-daerah, bahkan sampai pelosok negeri.”]
Kira-kira simpul benang itu yang dapat saya tangkap dari Orasi Kebangsaan Bang Fahri (Fahri Hamzah) dalam Dialog Kebangsaan bertema “Narasi Besar Kepemimpinan untuk Kesejahteraan Masyarakat Kalimantan Barat”, Rabu (26/04/2017) tadi malam di Ballroom Hotel Mercure. Dialog tersebut diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA. KAMMI). Narasumber yang hadir adalah Bang Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI), Bapak Sutarmidji (Walikota Pontianak), dan Moderator, Bang Faisal Riza. Kemudian, selain dipenuhi oleh kader KAMMI dan KA. KAMMI di Kalimantan Barat, para audiens tampak hadir dari berbagai kalangan, salah satunya Ketua Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Barat.
