Waktu itu baru beberapa hari kepulangan kami di sana aku sudah merasa rindu berat. Rindu dengan air bersihnya, rindu dengan keasrian lingkungannya, rindu dengan medan perbukitan, rindu dengan kearifan dan sikap ramah masyarakatnya. Mungkin dapat dikatakan selama satu minggu aku telah minum air Kapuas.
Nah sekarang untuk yang kedua kalinya aku menjelajah daerah terhulu Kalimantan Barat.
Namun meski posko kami masih kurang fasilitas, aku tetap senang bisa sampai di sini. Jalan perbukitan yang naik turun, air pegunungan, lingkungan asri, dan masyarakat yang ramah tetap ada di sini. Lebih dari itu kami dapat berwisata ke PLB yang sangat bagus yang dibangun di era Pak Jokowi.
Masyarakat di sini juga cukup baik perkembangan di berbagai bidangnya. Bukan tidak mungkin jika hanya dalam waktu beberapa tahun, Badau akan menjadi Kota Asri yang maju.
Terlepas dari susah dan jauhnya akses perjalanan ke Badau, namun tampaknya akan sulit untuk menghilangkan memori ini. Bahasa dan budaya tak menjadi penghalang kami membaur dengan masyarakat dan tak menjadi penghalang bagi masyarakat sekitar untuk memyambut dan menerima kami apa adanya. Mungkinkah karena terlalu banyak menggunakan air Kapuas? Entah. (*)
