“Saidek tuh, same seperti saye jadi ulama juga, malah bawa tasbih,” lanjut ayah menceritakan abang kandungnya.
Kata ayah, semuanya ada, selain berpakaian layaknya ulama, juga ada yang menunjukkan berbagai suku seperti ada Bugis Bone, Melayu dan Madura. Dan berbagai profesi seperti buruh, petani, dan guru.
Selain itu, masing-masing membawa properti hasil buatan sendiri misalnya, dari cerita ayah, ia membuat ikan berbahan kawat lalu menancapkannya di bambu agar bisa dipegang. Ada juga membuat masjid berbahan kertas karton lalu diberi pelita di dalamnya sehingga memberi penerang jalan saat pawai malam itu.
Setelah itu, ayah dan teman-temannya berkumpul di rumah gurunya, Pak Ja’far. Masa itu guru-guru yang mengajar di SR dan TK bertempat tinggal di dekat sekolah tersebut. Sebab, mereka berasal dari Pontianak.
Perkumpulan masa itu tidak hanya dipenuhi oleh murid-muridnya saja, namun orang tua murid juga berkesempatan hadir. Hingga tibalah saat-saat yang dinantikan, properti yang menjadi pameran saat pawai tersebut akan dipilih tiga terbaik.
“Melakukan pawai pada masa itu hanya untuk menyemarakkan Tahun baru Islam dan untuk memperkenalkan adanya berbagai suku dan profesi melalui pakaian yang dikenakan.” jawab ayah atas pertanyaanku kenapa melakukan pawai masa itu.
