Opini

Kisah di Balik Suksesnya AGSI Mengupas Peran Kesejarahan Sultan Hamid

Kisah di Balik Suksesnya AGSI Mengupas Peran Kesejarahan Sultan Hamid
Peneliti sejarah hukum lambang negara elang rajawali Garuda Pancasila, Turiman Faturahman Nur SH, M.Hum saat presentasi di webinar AGSI, Minggu, 5/7/20.

Oleh: Nur Iskandar

Sejak meledaknya pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Prof Dr AM Hendropriyono disusul webinar Wakil Ketua Dewan Gelar Prof Dr Anhar Gonggong bahwa Sultan Hamid II itu pengkhianat negara sehingga tidak pantas diajukan sebagai pahlawan nasional, kami turut sibuk dibuatnya.

Kami kebetulan menulis buku biografi politik Sultan Hamid II berjudul Sang Perancang Lambang Negara, terbit tahun 2013. Banyak tahu soal peran kesejarahan tentang Sultan Hamid yang dicap pengkhianat, padahal sepengetahuan kami Beliau berjasa besar bagi bangsa dan negara, jadi kami harus bersuara. Sebab adalah dosa jika kita tahu, lalu kita tidak mau kasih tahu sehingga umat tersesat lebih jauh dalam kumparan sejarah.

Kami pun bersuara lewat jumpa pers. Klarifikasi atas tuduhan berkhianat, terlibat pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling, tidak happy pada bentuk negara kesatuan–lebih suka federalis, dan bahwa Sultan Hamid II Alkadrie bukan perancang tunggal lambang negara. Jumpa pers itu hari Minggu, 13/6/2020.