Saya puas menonton webinar sambil menebas rumput tebal di kebun tani yang saya miliki. Saya dengar seluruh uraian dengan rasa haru sangat dalam. Apalagi cuitan ratusan guru sejarah mengaku berterima kasih atas informasi ilmiah para narasumber yang rrrrruar biassssah. Dominan para guru sejarah itu sepakat bahwa Sultan Hamid II Alkadrie layak diusulkan jadi Pahlawan Nasional atas jasanya merancang lambang negara dan kepiawaiannya memimpin BFO yang menurut Prof Dr Leirissa sebagai kekuatan ketiga yang mestinya sangat signifikan bagi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Saya semakin puas dan takjub dengan wejangan penutup dari putri Sang Proklamator Prof Dr Meutia Hatta yang mengatakan, sampai akhir hayatnya, dia tidak pernah mendengar dari mulut ayahnya bahwa Sultan Hamid II adalah pengkhianat negara. Juga dia menyebutkan masih ada guru besar sejarah yang belum siap membaca peran kesejarahan Sultan Hamid bagi Indonesia.
Saya tidak mengupas uraian Tengku Turiman dan Anshari Dimyati karena kami menulis buku bersama sama. Makan bersama sama. Banyak riset lagi di The Hamid Institute bersama sama.
Banyak pointers pelurusan sejarah telah mengemuka. Saya pikir itu semua skak mat punya.
