Oleh: Nur Iskandar
Bertebaran kerusakan di daratan dan lautan akibat ulah tangan tangan manusia. Kita beranjak dari sini. Bahwa semesta raya ini diciptakan Tuhan dalam keseimbangan. Dan kita di Indonesia, negeri yang percayakan Tuhan. Idiologi kita Pancasila — bukan yang salah — menempatkannya di nombor wahid. No 1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
Saya meliput tsunami terbesar di Atjheh tahun 2004. Orang kata kiamat.
Saya meliput gempa Bantul-Yogya, orang kata kiamat. Kini saya meliput pandemi sekaligus kriminalisasi konstitusi. Dalam hati saya bertanya mau apa lagi ini negeri? Kok tak tobat tobat. Tobat kok tomat? Tobat kok cabe? Diulang lagi diulang lagi. Apakah kita bangsa pelupa? Kok lali dengan sejarah. Aneh. Sebagai bangsa besar, tak akan bisa maju kalau tak ingat sejarahnya sendiri.
Sejak tsunami geologi sampai tsunami informasi, kita belajar banyak bahwa komunikasi, koordinasi, transparansi sangat penting. Era modern tak bisa sembunyi sembunyi. Alarm cepat berbunyi. Soal hoaks jangan menakut nakuti. Bisa kok dengan mudah diketahui. Lacak saja rekam IT kesekjenan DPR RI. Sita saja gejet pimpinan dan anggota DPR. Pasti ada kirim mengirim naskah. Konkret ini. Hoaks tersibak. Juga menteri menteri. Saya yakin IT adalah malaikat yang waskat. Pengawasan melekat.
