Community

Budaya Sungkan

Budaya Sungkan

Keadaan tersebut nampaknya sepele, tak perlu dipermasalahkan. Tapi, bagaimana jika perbuatan tersebut membuat orang lain resah risau, merasa dirugikan atau merasakan sakit hati.

Hal demikian terkadang membuat mereka mengalami situasi tegang, penuh emosi dan hanya diam-diaman saja. Seolah telah bertengkar mulut secara hebat. Tapi, hanya dalam diam. Mereka tidak memungkinkan untuk mengobrol, apalagi bercanda. Bisa dibilang mereka penganut slogan “Diam itu emas”

Cerita di atas mengingatkan saya tentang budaya sungkan. Sungkan diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai malas, enggan, merasa tidak enak hati dan menaruh hormat serta segan. Dan ada yang mengatakan budaya sungkan lahir dari suatu unsur feodalismenya.

Hubungan antar manusia ditentukan oleh peran yang mereka miliki. Ada hubungan secara vertikal dan secara horizontal. Dalam hubungan vertikal ini, misalnya murid dengan gurunya, anak dengan orang tuanya. Sedangkan hubungan secara horizontal, misalnya antar sesama atau sebaya yaitu sesama mahasiswa atau sesama pengawai negeri dan lainnya.

Dari relasi antar manusia itulah terjadi komunikasi yang penuh kesungkanan. Seperti seorang anak tidak boleh mengkritik orang tuanya karena bisa “Pamali”. Dan seperti cerita di atas seseorang yang enggan berterus terang saat melihat seuatu yang tidak baik dilakukan oleh temannya.