Oleh: Tuti Alawiyah
Pada suatu hari, seorang santri sebut inisialnya C, menyeret tubuhnya yang kelelahan. Ia berjalan menuju asramanya. Teman sekamarnya berinisial Kk dan Nn sudah dari tadi berada di kamar.
“Assalamu’alaikum” ucapnya sambil memegang gagang pintu, lalu mendorongnya.
“Wa’alaikumsalam” jawab mereka yang begitu pelan.
Langkah kaki terus berjalan menuju meja belajarku paling pojok dekat jendela. Hanya ada dua ruang yaitu ruang tidur sekaligus belajar dan ruang dapur. Seperti biasa ia menaruh tas, lalu duduk bersandar di ranjang melepas lelah. Tak lupa mengambil segelas air dan melihat Samsung Galaxy GTS7262 miliknya.
Berbicara seperti biasanya, mengungkapkan keadaan apa dan tentang apa yang ingin dikatakan kepada mereka, atau salah satu mereka menyampaikan sesuatu pembicaraan yang lucu, penting atau sebuah pertanyaan atau apalah itu.
Namun, pikirannya tetap sama seperti hari-hari biasanya. Kawannya tidak bisa rapi, segala barang-barangnya seperti tas, kaos kaki, buku-buku tulis maupun pelajaran berserakan di mana-mana.
“Simpanlah barang kalian di tempat yang sesuai, jangan diletakkan di atas tempat tidur, apalagi di dekat pintu!” Kata itu yang ingin sekali ia katakan.
“Cucilah piring atau bekas kalian pakai makan tuh!” Kata itu juga yang ingin sekali ia katakan ke mereka setelah melihat tumpukan piring, gelas dan sebagainya berada di tempat pencucian.
