in

Catatan Akhir Perjalanan di Badau

Oleh: Sukardi

Lima hari berada di Badau seperti lebih dari sebulan rasanya. Pertama kali sampai di Hotel Badau Permai resepsionis menyampaikan sudah beberapa hari air tidak mengalir. Tidak ada pilihan lain, hotel inilah yang terdekat dari posko mahasisiswa KKN Kebangsaan 2019. Masih beruntungnya karena di bak kamar mandi masih tersisa sedikit air, cukuplah gumamku dalam hati. Praktis hari pertama dilalui tanpa mandi, hari kedua juga sama. Baru hari ketiga bisa mandi menggunakan air mineral produksi negeri seberang.

Bersyukur dan nikmati saja itu kuncinya. Namun, karena kondisi badan yang tidak fit menyebabkan penulis hanya *momot doang* (bahasa Lombok=berdiam diri saja) dalam kamar.

Mengetahui penulis kurang fit, pesan singkat bertubi-tubi masuk ke dalam handphone. Semuanya berasal dari mahasiswa KKN Kebangsaan. Ada yang menanyakan, gimana kondisi bapak, apakah bapak sudah makan, apakah mau diantar ke puskesmas, dan lain-lain. Dengan sabar penulis membalas pesan-pesan itu meskipun tidak semuanya. Ada rasa sedih, haru, bahkan rasanya mau menangis melihat respon mereka.

Beberapa saat kemudian, Joni, salah seorang peserta KKN Kebangsaan datang ke hotel sambil membawakan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Mungkin karena melihat penulis kurang fit, Joni berkata: Bapak mau dipijit nggak? Tanpa pikir panjang penulis iyakan tawarannya.

Sejam lebih Joni memijit dan penulis pun tertidur tanpa menghiraukannya. Terimakasih Joni atas jasa pijatanmu.

Tidak mandi rasanya biasa saja selama kita menikmati dan mensyukurinya. Bukankah Allah berfirman: Barang siapa yang mensyukuri nikmatKu maka akan Aku tambah nikmatnya dan barang siapa yang kufur atas nikmatKu maka tunggulah azab-Ku yang sangat pedih.

Berdasarkan hal tersebutlah maka penulis nikmati dan syukuri saja apa yang ada. Memasuki malam perpisahan dan launching buku di halaman Pasar Inpres Desa Badau semangat semakin berlipat melihat antusiasme masyarakat yang hadir, mulai dari siswa MI, SD, MTS, SMK, Bapak Sekcam, Bapak Kades, Tokoh Agama, dan lain-lain.

Namun, setelah acara seremonial perpisahan berakhir atas saran mahasiswa penulis langsung kembali ke hotel. Malam serasa lama berakhir karena semangat untuk kembali ke Pontianak begitu “membara”. Ah entah apa alasannya.

Tulisan ini penulis buat sambil menuju Putussibau menggunakan taksi, ongkosnya fantastis (tak perlu pembaca tahu ya). Dalam hati bergumam, bukankah hari ini juga Kegiatan Kampung Riset berakhir? Iya sebagai program unggulan Kampung Riset di Kabupaten Sanggau mulai dilaksanakan tanggal 19 sd 24 Agustus 2019. Bersamaan berakhirnya tapi tentu tidak bersamaan sampainya di Pontianak.

Badau dengan segala keterbatasannya ternyata membuat penulis kangen. Pagi sebelum menganjakkan kaki dari hotel, berat rasanya meninggalkan desa di ujung negeri ini. Desa yang rasa nasionalismenya “masih kurang”. Tidak ada pengibaran bendera di halaman rumah-rumah penduduk kecuali di instansi-instansi pemerintah.

Berdasarkan penuturan Joni dari hasil wawancaranya dengan beberapa orang warga, itu tidak penting katanya. Iya Desa Badau yang terus berbenah sebagai wajah terdepan NKRI akan membuat penulis merasa benar-benar rindu ingin kembali lagi.

Semua yang terlibat dalam KKN KEBANGSAAN 2019 dan KAMPUNG RISET sehat dan sukses selalu.

(Ketua LP2M IAIN Pontianak)

Written by teraju

Tambak Bertulis di Bukit Raja, Tayan

Tradisi Gotong Royong Suku Lundayeh dalam Bertani