Gunta Wirawan termasuk penulis yang pernah merasakan tempaan penyair sufistik Kalimantan Barat, Odhy’s dan diakuinya tempaan itu cukup memberi pengaruh. Antologinya Membaca Laut diakuinya sedikit banyak terpengaruh oleh Odhy’s, beruntungnya lagi pernah mendapat apresiasi lewat artikelnya Filsafat Pemabuk dalam Bunga Kedau. Sebagaimana laut, Gunta pun menjadikan sebagai arah membangun imajinasi kreatifnya.
Pembicaraan laut seperti menjadi pemantik membuka wahana sastra dalam perspektif ekokritik, yang menjalar pembicaraan sungai yang tepat di sebelah semeja dalam tegukan kopi saring hitam. Sesuai cerita orang tuanya, sungai itu pada masa dulu dapat dilalui oleh perahu motor dan dapat dimanfaatkan keberadaannya, seperti mandi dan airnya digunakan untuk membersihkan halaman rumah. Mengisyaratkan bahwa sungai tersebut sarat manfaat dibandingkan sekarang ini sarat tumpahan keteledoran masyarakat.

Meskipun, sungai tersebut kini mendapatkan perhatian oleh pihak terkait sehingga tidak menimbulkan aroma menusuk hidung yang diakibatkan sampah. Perubahan menjadikan bagian yang tidak terelakkan, yang dimaknai oleh Gunta Wirawan tidak harus melahirkan kritik sosial yang memerahkan daun telinga apalagi perubahan mengarah kepada kebaikan tentunya perlu diapresiasi. Sisi hati-nurani dapat dimunculkan untuk melihat perubahan karena perspektif terdapat ragam sudut yang berbeda.
