Misalnya, laut yang dipenuhi oleh sampah tidak harus ditransformasikan ke dalam karya sastra dengan diksi-diksi frontal kritik sosial, tetapi sudut lain dengan penggambaran bahwa laut tetap jernih meski berserakan dengan sampah. Sudut demikian yang kemudian mengarahkan kesadaran ketuhanan melalui laut. Lingkungan sekitar dijadikannya sarana pendekatan (taqarrub) kepada Tuhan.
Sebagaimana Sungai Kapuas dengan segala problematika perubahan dapat dilihat dari sisi yang berbeda. Keberpihakannya dapat ditunjukkan melalui eksistensinya yang digambarkan sebagai ekosistem lingkungan yang dapat menyatukan etnis Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat. Dayak di hulu dan Melayu di hilir tersatukan oleh nadi Sungai Kapuas. Setidaknya begitu gambaran tawaran Gunta Wirawan pada salah satu puisi dalam antologinya Membaca Laut.
Perubahan ekosistem lingkungan merupakan entitas yang tidak harus ditunjukkan keberpihakan melalui gugatan. Perubahan tersebut hakikatnya dapat memantik ragam keberpihakan, perubahan sosial atau tatanan kota menuju metropolitan kadang sulit mempertahankan entitas lama sebagai penanda keseimbangan lingkungan (equilibrium). Meskipun, para penyair berhasrat mendambakan masa lalu yang penuh kedamaian melalui keramahan lingkungannya, begitu imbuh Gunta Wirawan.(K/F)
