Oleh: Ambaryani
Setelah separuh waktu saya habiskan di Teluk Nangka dan Kubu, serasa banyak peristiwa kilas balik kehidupan masa kecil saya dulu. Iya, saat tahun 90-an saya masih di kampung Satai, Sambas, dulu.
Salah satunya, tak adanya TV di rumah. Dulu, saat masih tinggal di rumah jatah transmigrasi, orang tua saya tidak punya televisi. Satu kampung, hanya 1,2 orang saja yang punya TV. Saya melalui fase, setiap malam habis Maghrib, digendong Pa’e pergi ke rumah tetangga untuk nonton TV. TV hitam putih, itupun jadi barang mewah dan mahal dulu.
Sekarang, saya kembali ke salah satu fase itu. Di rumah yang saya tinggali sekarang tak ada TV. Pernah sesekli teman serumah sehabis Maghrib nonton ke rumah teman.
Rumah kami memang jauh dari tetangga. 1 TR hanya ada 4 rumah. Kanan kiri rumah kebun kelapa, pepohonan jati dan sengon. Teman saya pernah menggoda saat tahu saya tinggal di situ.
“Mak…berani kitak tinggal situk? Sepi, banyak semak, tempat jin betendang,” kata teman.
Saya balas dengan senyum. Walaupun sebenarnya saya rasa, teman terlalu berlebihan di ujung penggambaran tempat kami.
