Aku memulai sesi di kelas Aulia pagi itu dengan mendongeng tentang orangutan. Harapannya, anak-anak tidak bosan dengan penjelasan yang terlalu teknis tentang profesi orangtua. Alhamdulillah, cerita pengantarku tentang mengapa orangutan harus tetap ada di ‘rumahnya’ di hutan dan mengapa ‘rumah’ orangutan harus kita jaga bersama, berhasil memancing beberapa kawan Aulia tertarik bertanya lebih jauh tentang orangutan. Ada yang bertanya, siapa yang memberi makan orangutan. Ada juga yang bertanya, apa saja yang dimakan orangutan. Kalau orangutan lahir, siapa bidannya.

Seru ya cara anak-anak bertanya, kadang-kadang sama sekali jauh dari bayangan kita sebelumnya. Sangat khas anak-anak. Sampai sejauh ini, semuanya bisa kujawab berdasarkan beberapa referensi dan bekal dari Albert dan Mas Uyung, pakar orangutan yang kami miliki di WWF.

Akhirnya, muncul pertanyaan kawan Aulia yang satu ini, tapi bukan tentang orangutan. “Ayah Aulia kalau kerja pakai seragam apa ya?” Aku segera menyadari, bahwa di kepala anak-anak, bayangan tentang pekerjaan orangtua hampir identik dengan bekerja di kantor, berangkat pagi pulang petang, dan memakai seragam.

Sempat kelabakan dengan pertanyaan yang tak terduga ini, aku mencoba menjelaskan kepada anak-anak bahwa pekerjaan orangtua mereka sangat beragam. Ada yang bekerja dengan seragam yang sudah ditentukan, seperti pegawai negeri, tentara, polisi, guru, dan tenaga kesehatan. Tapi ada juga yang bekerja tanpa ditentukan seragamnya seperti apa, seperti pekerjaanku.

Aku coba mengalihkan materi agar fokus mereka tidak lagi pada seragam. Aku kuatir kehabisan amunisi dan tidak mampu menjawabnya lagi, hehe…

“Siapa yang senang jalan-jalan?” tanyaku kepada anak-anak.

“Saya… saya… saya…” anak-anak nyaris serentak menjawab, sambil mengacungkan tangan mereka.