in

Best Practices Bersama Bang Herma

ngopi pagi

Oleh: Nur Iskandar

Atas inisiatif Muhammad Azdi kami diajak sarapan pagi. Katanya mau deal di Cafe Deal. Hebat sekali rencananya. Saya pun hadir.

Ternyata memang rrrruar biasah. Ada para pendekar lingkungan hidup. Ada pejuang reformasi dan perdamaian atas nama etnis dan agama. Ada Bang Herma. Kalau tak dikumpulkan begini, jarang bisa diduk bersama, bercengkrama.

Bang Herma sengaja diundang Bang Azdi untuk berbagi cerita. Khususnya kearifan lokal menata lingkungan hidup agar lestari. Bahasa kawan kampus: sustainable.
Bang Herma pelajar terbaik Kalbar pada zamannya. Lulus SMA favorit SMAN 1 ia studi ke Yogyakarta. Sepulangnya, ia tancap gas di Yayasan Madanika. Keren sekali namanya. Punya reputasi yang saya meliputnya. Madanika bicara reformasi, bicara aksi, bicara idiologi. Serrrram. Tapi sopan. Inilah madinah. Inilah madani. Itulah madanika.

Saat Hermayani Putera, nama lengkapnya memimpin WWF Kalbar, saya diajak ke Danau Sentarum. WWF bisa mengajak Bupati Tambul Husin melepas ikan silok ke habitatnya. WWF bisa buat kapal wisata bentuk bandong yang merupakan tren wisata lokal berdaya ungkit International. Bahkan lahir Festival Danau Sentarum. Prestasi hebats.

Baca Juga:  Gak Cukup Uang...

Jangan tanya soal madu. Soal perdes yang dijala dari aturan adat menjadi norma. Pemberdayaan ekonomi. Sampai akhlakul karimah. Kini Bang Herma merasa bosan di WWF. Dia pilih mengurus mesjid dan pengkaderan di tengah komunitas. Ini pula sebab dia ringan hati memenuhi undangan Azdi.

Sambil menyeruput kopi, Bang Herma berkisah best practice dan lompatan lompatan katak. Bagaimana membuat hutan lindung lestari, jual karbon, menghijaukan lahan kritis, dan pelestarian plasma nutfah.

Bang Herma sempat tergoda jadi Walikota. Pasangannya Bang Bung Ben. Namun rencana menggunakan perahu independen kandas. Demikian karena jalur politik jalur bebatuan cadas. “Kita realistis saja. Saya main di tengah masyarakat saja. Mengurus mesjid dan umat.” Begitu Bang Herma. Adapun Bang Bung Ben alias Beni Sulastyo juga pilih mengabdi ke mesjid kapal Munzalan Mubarakan. Bang Bung Ben sempat nyenat. Kalah sedikit suara jadi senator.

Politik memang menggantang asap. Jika mau melakukan perubahan, tidak harus menjadi top eksekutif atau top legislatif. Merubah diri sendiri dan lingkungan terdekat pun cukuplah. Perubahan kecil kecil inilah best practices yang harus dibagi dari generasi ke generasi. *

Baca Juga:  Gak Cukup Uang...

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

sunrise

Sunrise Teluk Batam

WhatsApp Image 2020 10 22 at 18.43.44

Sang Kyai Besar itu Telah Meninggalkan Kita…