in ,

Gak Cukup Uang…

Kisah Dapur ke-4 Berkah Box di Pontianak

berkah box pontianak

Foto ini diambil dari lini masa kak Nirwana Tawil, Founder Berkah Box yang mengawal pembukaan produksi Dapur 4 Pontianak. Kak Nirwana mengawal set up mitra produksi di Pontianak, bersama beberapa tim, kurang lebih 2 mobil jalan darat 3 hari dari Balikpapan.
Raihan donasi Berkah Box masih steady, namun kami putuskan buka di Pontianak, running 200-500 box per hari. Langsung di Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman Al Qadri, Pontianak. Masjid tertua di Pontianak.

Alhamdulillah hari ini mulai distribusi, alhamdulillah disambut warga sekitar pemukiman. Alhamdulillah.

Banyak yang bilang ini tentang uang, kalo uangnya ada ya siapapun bisa jalanin produksi, buka dapur, tapi kalo boleh cerita, memang gak cukup uang, bahkan ada uang pun belum tentu jalan.

Semoga potongan-potongan kisah berikut bisa memberi gambaran.


Guna menekan biaya buka dapur, ditempuh jalan darat dari Balikpapan, jika naik pesawat ke Kalbar kena wajib PCR, tim hampir lebih 10 orang. Gak memungkinkan naik pesawat.
Perjalanan dari Balikpapan ke Palangkaraya 1 hari, Palangkaraya ke Lamandau 1 hari, dari Lamandau ke Pontianak 1 hari. Selalu menginap di check point. Sambil bawa alat-alat dapur dari Balikpapan, karena kami lebih mengenal Supplier di Balikpapan.

Ini perjalanan dari garis pantai timur ke garis pantai barat, membelah Pulau Kalimantan, melewati hutan, hutan sawit, tanah gambut. Ada uang pun, gak semua orang mau PP 6 hari.

Baca Juga:  12 Tahun Membangun Poros Pontianak-Jerman

Di titik set up dapur, kalo beli meja kompor yang sudah jadi, meja penyajian packing yang sudah siap pakai, pasti mahal. Maka percaya gak percaya, di Berkah Box ada tukang tetap, Bang Agus, Bang Anas, Bang Indra, alhamdulillah Bang Agus dan Bang Indra ikut ke Pontianak.

Meja dibuat ulang, saluran air bersih dibuat ulang, untuk cuci alat masak diset up, alhamdulillah area dapur umum yang disulap jadi Dapur Berkah Box di Masjid ini, cukup representatif, aliran udara sehat. Cahaya cukup.

Hal intangible yang gak keliatan itu adalah para abang-abang kami yang selalu siap sedia tanpa itung-itung. Pokoknya gimana amal sholih ini jalan. Ini value yang ditanam Kak Nirwana di organisasi, Saya gak ikut-ikut sebenernya, Kak Nirwana yang bangun tim, beserta nilai-nilai yang dianutnya.


Akad infaq di Berkah Box itu Rp 10.000,00 untuk 1 nasi box. Ini angka keramat yang dijaga Berkah Box. Donasi 10 ribu, ya harus jadi 1 nasi box.

Lengkap nasi, dibungkus kertas nasi, kemasan terbaik paper pack, lauk di mika ganda, sayur, protein nabati, hewani, kadang ditambah krupuk dan sendok plastik. Semua dihadirkan dalam kualitas maksimal, tapi angkanya harus di 10 ribu.

Baca Juga:  Forestry Synergy Coordination Meeting 2021

Bahkan 10 ribu ini pun sudah dengan kegiatan manajemen Yayasan yang bekerja menjaga arus donasi. Semua dipaksa make it happen.

Maka kalo mental juang di produksinya gak ada, entitas filantropi Berkah Box ini sudah lama tiada. Atas pertolongan Allah, atas karunia Allah, Allah karuniakan mental ini. Alhamdulillah.


Saya pribadi kerja daily base nya adalah komunikasi ke publik, menjalin konten informasi ke donatur. Begitu donasi masuk, agar pola syariat dan compliance nya terjaga, yayasan belanja pada mitra produksi yang dibangun untuk mengejar spek yang kami inginkan.
Kerja komunikasi, kerja content, walau ia adalah ujung tombak, tapi tetaplah ia hanya mengalirkan uang kedalam entitas.

Tim yang mengeksekusi amanah ummat itulah yang lebih sensitif, karena nasi box lah yang dirasakan oleh ummat.

Kompetensi masak itu tangible, tapi kompetensi mental batin melayani ummat itu sangat intangible. Bagaimana tetap punya mental melayani ummat penerima manfaat, walaupun saudara kita gak bayar, dapat gratis.

Ini perlu mental tanggung jawab yang tinggi, perlu kompetensi intangible yang gak sembarangan.

Ustadz Rendy Saputra – Co Founder Berkah Box

Written by teraju.id

strada pickup

Semoga Husnul Khatimah

sekolah advokasi.1

Sekolah Advokasi Hukum dan Paralegal Muhammadiyah KALBAR