Saya jadi teringat, dulu, kalau sudah hujan panas sedang turun dan kita lagi ada di luar atau berada di jalan. Maka, harus menyelipkan dedaunan ke telinga. Itu dianggap sebagai alat pengalihan agar hantu tidak melihat kita.
“Sengadi ketegoran aku, baru ketegoran aku. Baru kau sebot name kau.” Ucap Nenek memberitahukan saya. Entahlah, apakah itu sebuah mantra atau apa. Nenek mengatakan orang zaman dulu sudah memang percaya hal-hal seperti itu.
Di keluarga saya, memang cukup percaya dengan hal-hal mistis dan segala pantang larang di dalamnya. Terutama Nenek, beliau adalah orang Bugis Wajo. Dan beliau percaya, kalau pantang larang tersebut tidak dilakukan, maka akan ada akibat yang didapat.
Namun, seiring berjalannya waktu. Hal-hal seperti itu sudah mulai ditinggalkan karena dianggap suatu perbuatan yang melanggar syariat. Memang sangat disayangkan, apabila budaya yang sudah ada sejak turun-temurun seperti ini hilang.
Sebab telah terganti dengan perkembangan zaman dan berubahnya pola pikir masyarakat. Dimana, kebanyakan kini tidak percaya dan tidak mau menjaga kelestarian budaya yang ada.
