Home > Community > Epilog

Epilog

Oleh Rike Rahayu

Kesempatan berjatuhan dari langit saat kamu berendam di dalam bak mandi penuh angan, mengutarakan sesuatu tetapi aku ketakutan dan memilih untuk bersembunyi dalam pelukan ketidaktahuan. Gawaiku berdering, menandakan ada pesan masuk yang siap kubuka. Aku menjawab, “Pemilihan Duta Tanaman Kalimantan Barat 2019. Artikel lagi, Semangat!”

Tetangga-tetangga menatap kamar kost ku dengan kebingungan semenjak aku mengecatnya dengan syair kebebasan, sementara aku sibuk menyembunyikan elegi di bawah karpet yang aku beli minggu lalu. Aku menemukan selamanya di laci sebelah kasur, tapi di atasnya kutemukan nanar yang membisu. Bayangan di dinding kamar lebih pekat di sisi timur daripada sisi barat; dengan aku yang tidur menghadap pintu seolah semua jawaban disanderanya. Aku menambatkan jemariku pada papan ketik di laptop, lalu bertanya lagi “Nulis apa ya?”

Lalu terdengar dari balik ruangan sembari membukakan daun pintu “Assalamualaikum.” Temanku datang berkunjung ke dalam ruang hampa yang telah kucipta untuk diriku sendiri. “Kenapa kita harus peduli sama tanaman kak?” tanyaku. “Orang salam tuh dijawab, bukan dikasih pertanyaan” sambil melabuhkan punggungnya pada punggungku yang tengah asyik mengetik “Waalaikumsallam. Jadi apa jawabannya?” “emm… apa ya.. kalo menurut kamu, jika tanaman tiba-tiba menghilang dari muka bumi ini apa yang terjadi?”

Aku terdiam. Pertanyaan yang seolah olahmengolokku untuk kesekian kalinya “Apaan sih kak, masa iya tiba-tiba tanaman hilang dari muka bumi!” “Ya jawab” pintanya. Pikiranku sudah tersungkur memeluk tanah. Di mana semua rasa manis dalam mulut berubah menjadi pahit begitu membayangkan tidak ada tidak ada tanaman dimuka bumi ini. Tidak ada penyerapan air, tidak ada pengubahan karbondioksida menjadi oksigen, tidak ada buah-buahan, tidak ada tempat yang rindang yang kita dapat bersandar dibawahnya. Lalu kujawab “Kacau…” Dia menatapku dalam, seolah tahu aku belum selesai merangkai kata untuk tetap berlarut dalam rangkaian diksi yang akan kucipta. “kalo gak ada tanaman di bumi ya semuanya hancur kak, banjir dimana-mana karena gak ada resapan dari akar, bakalan banyak karbon dioksida juga bisa micu efek rumah kaca, hewan yang hidup di hutan pasti musnah, terus binatang juga, manusia apalagi, udah makan hewan, makan tumbuhan, pasti musnah kak” Aku baru saja seperti memetik rasa yang berjatuhan di kamarku sendiri seraya berusaha membangun anganku yang mengambang di tepi langit sore ini, masih sungguh asing bagiku.

“Nah, kakak balikin pertanyaan nya, jadi kenapa sih kita harus peduli sama tanaman?” tanyanya. Aku tersenyum, kemudian menjawab dengan sederhana “Sebab tanaman sumber kehidupan”

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Rike Rahayu

Check Also

Rasa yang Tak Biasa

Oleh: Lailatu Saidah Sebelas finalis yang masuk menjadi calon Duta Literasi dikumpulkan di ruang LP2M …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

teraju.id