Oleh Rike Rahayu
Kesempatan berjatuhan dari langit saat kamu berendam di dalam bak mandi penuh angan, mengutarakan sesuatu tetapi aku ketakutan dan memilih untuk bersembunyi dalam pelukan ketidaktahuan. Gawaiku berdering, menandakan ada pesan masuk yang siap kubuka. Aku menjawab, “Pemilihan Duta Tanaman Kalimantan Barat 2019. Artikel lagi, Semangat!”
Tetangga-tetangga menatap kamar kost ku dengan kebingungan semenjak aku mengecatnya dengan syair kebebasan, sementara aku sibuk menyembunyikan elegi di bawah karpet yang aku beli minggu lalu. Aku menemukan selamanya di laci sebelah kasur, tapi di atasnya kutemukan nanar yang membisu. Bayangan di dinding kamar lebih pekat di sisi timur daripada sisi barat; dengan aku yang tidur menghadap pintu seolah semua jawaban disanderanya. Aku menambatkan jemariku pada papan ketik di laptop, lalu bertanya lagi “Nulis apa ya?”
Lalu terdengar dari balik ruangan sembari membukakan daun pintu “Assalamualaikum.” Temanku datang berkunjung ke dalam ruang hampa yang telah kucipta untuk diriku sendiri. “Kenapa kita harus peduli sama tanaman kak?” tanyaku. “Orang salam tuh dijawab, bukan dikasih pertanyaan” sambil melabuhkan punggungnya pada punggungku yang tengah asyik mengetik “Waalaikumsallam. Jadi apa jawabannya?” “emm… apa ya.. kalo menurut kamu, jika tanaman tiba-tiba menghilang dari muka bumi ini apa yang terjadi?”
