Berita

Serumpun Berpantun dan Akar Budaya Bugis-Melayu

Serumpun Berpantun dan Akar Budaya Bugis-Melayu
Suasana di beranda Kesultanan Mempawah (Amantubillah) dan landscape sejarah Sultan Hamid II Alkadrie Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila (Istana Qadriyah) Kesultanan Pontianak.

teraju.id, Pontianak – Masya Allah watabarakallah wanikmatillah. Kunjungan Persekutuan Kebangsaan Bugis Sabah (PKBS) semasa 12-14 Juni 2026 bertabur Rihlah Menelusuri Jejak juga bertakbir pada sastra lisan yang tumbuh berkembang di Negeri Serumpun yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam. Salah satu peletak dasarnya ke dalam struktur bahasa Melayu yang literatif adalah Raja Ali Haji. Allahyarham dinobatkan sebagai Bapak Bahasa Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional pada 2004.

Raja Ali Haji adalah cicit dari Opu Daeng Chella’. Tepatnya dari Kerajaan Luwu Opu Tandre Borong Daeng Rilleke–Opu Daeng Chella’–Raja Haji Fisabilillah –Raja Achmad–Raja Ali Haji (1808-1873). Raja Ali Haji Sang Sastrawan, Budayawan, Ulama–Bangsawan–penulis Gurindam 12 yang menjadi sanad kesusastraan berpemerintahan, bernegara sekaligus dakwah. Ia menuliskan sejarah heroik lima Opu dalam Tuhfat Alnafis sehingga mewarnai tanah Melayu sejak Malaysia, Brunei, Riau hingga pesisir Kalimantan. Yakni Mempawah-Pontianak-Sambas melalui Opu Daeng Manambon dan Opu Daeng Kemase’.

Kelima bersaudara pakar laut dan kelautan, arif dalam merangkul sub etnik lokal, bijak dalam meresolusi konflik maupun keputusan, memperkuat budaya lokal menjadi mondial. Ewako dan siri’ ripakasiri’ menjadi ruh tudang sipulung. Duduk sama rendah. Berdiri sama tinggi. Dimana bumi dipijak. Di sana langit dijunjung.

Buka kelapa dapat sabut
Buka pukat dapat ikan
Awak datang kami sambut
Awak pulang kami hantarkan

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *