Pagi di kampung selalu sederhana.
Suara cangkul sering lebih dulu terdengar daripada suara berita. Embun masih menggantung di pucuk daun, motor tua mulai keluar pelan menuju kebun, sementara asap dapur mengepul dari rumah-rumah kayu. Orang-orang desa berangkat bekerja tanpa tahu berapa kurs dolar hari ini. Mereka hanya tahu tanah harus diolah, tanaman harus dijaga, dan anak-anak harus tetap makan.
Betul, orang desa tidak pakai dolar. Mereka mungkin hanya memegang cangkul, sekop, parang, dan sisa tenaga selepas matahari tenggelam. Hari ini bekerja untuk makan hari ini. Besok kembali bekerja demi sepiring nasi berikutnya. Tidak banyak bicara soal ekonomi global, pasar saham, atau perang dagang dunia.
Bahkan boleh jadi nama dolar pun terasa asing bagi sebagian mereka. Tetapi dari desa itulah lahir anak-anak yang hari ini berdiri tegak di kota. Ada yang menjadi guru, pejabat, dosen, pengusaha, aparat, bahkan pemimpin negeri. Kota-kota besar hari ini dipenuhi oleh anak-anak kampung yang dulu berangkat sekolah melewati jalan berlumpur, yang dibesarkan oleh orang tua dengan tangan kasar karena bekerja.
Karena itu, desa jangan dipandang rendah. Sebab dari sanalah kehidupan bangsa ini dimulai.
Di kampung, kita belajar gotong royong tanpa proposal. Orang datang membantu tanpa perlu diumumkan. Ketika ada tetangga sakit, orang berdatangan. Ketika ada kematian, dapur-dapur ikut menyala. Ketika ada hajatan, tenaga mengalir tanpa menghitung upah. Nilai seperti itu hari ini mulai mahal ditemukan.
Sementara di banyak tempat, jiwa individualis perlahan meluber ke generasi. Orang makin sibuk dengan dirinya sendiri. Tetapi kampung masih menyimpan wajah asli karakter bangsa: saling kenal, saling tegur, saling bantu.
Saya tersentuh menulis ini setelah mendengar pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto, tentang “orang desa tidak pakai dolar.” Saya memahami mungkin maksudnya untuk menenangkan masyarakat. Tetapi kalimat itu juga bisa disalahpahami seolah kehidupan desa tidak berkaitan dengan naik turunnya dolar.
Padahal kenyataannya, kami di desa ikut merasakannya. Petani memang tidak bertransaksi memakai dolar. Tetapi pupuk ikut naik. Harga sembako ikut bergerak. BBM berubah, ongkos angkut berubah, bahan makanan perlahan ikut berubah. Orang desa mungkin tidak memegang dolar di tangan, tetapi ketika dolar naik, yang ikut menipis lebih dulu justru isi dapur mereka.
Desa mungkin tidak berbicara tentang dolar.
Tetapi negeri ini tidak akan makan tanpa orang-orang desa. Namun begitulah hidup bernegara. Akan selalu ada ucapan pemimpin yang ditafsir berbeda-beda oleh rakyatnya. Dan sebagai masyarakat Melayu Sambas yang dibesarkan dengan nilai Islam, kami diajarkan satu hal: pemimpin tetap harus dihormati dan didoakan kebaikannya.
Sebab kelak di akhirat, kita tidak ditanya tentang bagaimana sikap pemimpin kepada rakyatnya. Tetapi kita akan ditanya tentang bagaimana sikap kita kepada pemimpin. Maka mengkritik boleh, mengingatkan boleh, tetapi adab jangan hilang.
Jangan sampai hati menjadi “lene” dengan keadaan hari ini. Terlalu hanyut dalam kecewa sampai lupa menjaga diri sendiri. Orang tua Melayu Sambas mengajarkan agar hati dibuat “linsai” maksudnya ditenangkan, diredakan, supaya pikiran tetap jernih melihat keadaan.
Karena kampung mengajarkan kita satu hal penting bahwa hidup tidak selalu tentang marah paling keras, tetapi tentang tetap menjaga hati agar tidak kehilangan arah.
Dan mungkin benar, orang desa tidak pakai dolar. Tetapi jangan lupa, dari desa lah negeri ini berdiri.
