Community

ORANG PUNAN DI TENGAH KEKAYAAN ALAM YANG KIAN MENIPIS (1)

ORANG PUNAN DI TENGAH KEKAYAAN ALAM YANG KIAN MENIPIS (1)

Oleh: M Hermayani Putera

Lerry, saudara Hoten yang tinggal di Bungan dan kebetulan sedang ada urusan di Putussibau, juga ikut menyertai kami. Ia duduk paling depan di haluan perahu. Tugasnya memberi arah jalannya perahu agar tidak menabrak batu di sungai atau gelondongan kayu yang hanyut dari arah hulu. Melihat abangnya membawa boks, dengan sigap Lerry memilih tiga batu berukuran sedang. Ia susun membentuk tiga kaki, siap jadi perapian. Ia pilih beberapa ranting kayu yang cukup kering dan mudah didapat di sekitar karangan, dipatahkan menjadi ukuran lebih kecil, disusun di tengah perapian.

Baca Juga:Rindu Kampung

Dandang ukuran sedang ia ambil dari perahu. Air isi ulang dari galon ia tuangkan secukupnya ke dalam dandang. Ia mengeluarkan korek api gas dari tas pinggangnya. Api menyala. Beberapa menit kemudian, air pun mendidih. Kopi panas disajikan kepada kami. Alam dan pengalaman mendidiknya bagaimana bekerja dengan cekatan.

Hoten dan Lerry adalah Orang Punan, demikian mereka sering disebut dalam kajian antropologi. Orang Punan sudah mendiami Desa Bungan Jaya dan Tanjung Lokang sejak 6-7 generasi lalu. Orang Punan, bersama orang Bukat, adalah tipologi masyarakat Dayak yang berburu dan meramu (huntered and gathered) atau mengumpulkan hasil hutan bukan kayu.