Hoten adalah rekan kerja kami di WWF. Keberagaman kelompok masyarakat Dayak di Kapuas Hulu hampir semuanya terwakili di WWF, baik sebagai staf maupun mitra kerja di lapangan. Ada yang berasal dari Iban, Kantu’, Tamambaloh, dan Kayan. Strategi ini kami lakukan agar program-program konservasi dan pemberdayaan masyarakat WWF lebih mudah diterima, diterjemahkan, dan dilakukan bersama masyarakat di lapangan. Penerimaan yang baik oleh masyarakat adalah prasyarat yang harus ada jika program sebuah institusi ingin berhasil.
Setelah makan siang, istirahat yang cukup, dan memberikan kesempatan kepada kami yang muslim shalat zuhur dan ashar dengan cara digabung (jamak) dan diringkas (qashar), Hoten memberi kode lagi kepada kami: mari melanjutkan perjalanan ke hulu sebelum gelap menyergap. Setelah hampir dua setengah jam, menjelang senja kami tiba di Desa Bungan Jaya. Penduduk desa menyambut kami dengan ramah. Kami akan menginap dua malam di sini.
Salah satu yang aku kenal adalah Pak Lacik, tokoh masyarakat di sana. Badannya masih tegap, walaupun sudah berumur lebih dari 70 tahun. “Apa kabar, Nak Herma?” sapanya ramah, sambil menyalami dan memelukku erat. Luar biasa, beliau masih mengingat namaku dengan baik.
