Oleh: Saripaini
Mereka menoleh kanan dan kiri. Ragu. Malu. Mereka saling tunjuk.
“Ayok la!” pemuda berkulit gelap melangkah sambil berbisik mengajak temannya memasuki rungan Club Menulis yang tak seberapa besar.
Langkahnyakemudian diikuti beberapa beberapa orang masih dengan gaya yang sama.
Beberapa menit sebelum kedatangan rombongan putih abu-abu ke ruangan Club Menulis, kami didatangi oleh Pak Adnan selah seorang pegawai di IAIN Pontianak. Pak Adnan menginformasikan bahwa ada kunjungan siswa SMA ke IAIN Pontianak dan beliau rasa Club Menulis merupakan tempat yang harus mereka kunjungi ketika mendatangi perpustakaan IAIN Pontianak.
Tak berapa lama rombongan yang dipimpin oleh Pak Adnan dan seorang guru pembimbing yang mengenakan baju batik telah berkumpul di depan ruangan Club Menulis IAIN Pontianak. Satu per satu putih abu-abu melangkah malu-malu memasuki ruangan Club Menulis.
Satu per satu anggota Club Menulis yang hadir pada saat itu dikenalkan oleh bang Herman dengan format: nama, jumlah buku yang telah ditulis dan prestasi yang didapat melalui tulisan sambil mengendalikan sorot mata rombongan putih abu-abu dengan mengarahkan tangannya kepada anggota yang dikenalkan.
Mengikuti arah tangan Bang Herman disambung dengan satu dua anggukan kepala. Mereka nampak antusias mendengarkan Bang Herman memperkenalkan anggota mengapresiasi melalui anggukan demi anggukan kepala.
