in

Program dan Dukungan dengan Kebijakan

logo cm iain


Oleh: Ambaryani

Masih lekat dalam ingatan saya, di tahun 2009, Pembantu Ketua III STAIN Pontianak Dr. Hermansyah adalah menggagas program unggulannya dengan membentuk 3 club. Klub Qur’an, Klub Bahasa dan Club Menulis. Pada masanya 3 club ini menjadi wadah besar mahasiswa dengan kecendrungannya masing-masing. Lewat wadah ini juga kemudian mahasiswa dapat menjolok beasiswa preatasi dengan bergabung dan aktif di 3 club tersebut. Prioritas. Saya merasakan beasiswa tersebut. Begitu juga teman-teman lain yang aktif dalam 3 klub itu.

Saya mengikuti Club Menulis. Di sana kami mendapat tempat yang tepat untuk berkarya (menulis) dan menerbitkan karya dalam bentuk buku. Tak hanya berkolaborasi dengan anggota club, kami berkolaborasi juga dengan penulis-penulis di luar IAIN Pontaiank. Misalnya, dari Balai Bahasa Kalbar yang ketika itu sangat intens berinteraksi dengan STAIN Pontianak.

Hasilnya, di akhir 2010 club menulis bisa launching buku perdana. Ada beberapa buku. Rasanya luar biasa. Bangga. Serasa sudah menjadi penulis beneran. Sudah punya buku, walaupun buku bersama, dan mungkin tidak bagus.

Baca Juga:  Sinergi Kegiatan BPDASHL Kapuas

Dari Club Menulis juga saya dan teman-teman belajar menjaga ritme menulis. Agar bekal yang kami dapatkan dapat berefek jangka panjang. Masa depan. Dampak positifnya (amal jariah) Club Menulis menggalir hingga kini.

Alhamdulillah, setelah bekerja saya masih tetap berusaha menulis. Dan dari menulis itu saya mendapat manfaat secara nyata dalam dunia kerja.

Selama ini, saya hanya melihat Club Menulis dari jauh. Dari beberapa orang dekat. Kami, para senior memiliki juga group alumni yang kadang juga membicarakan buku baru atau program menulis.

Hingga pada hari ini, 15 Januari 2021 saya membaca tulisan mengenai ‘dikuburnya’ Club Menulis IAIN Pontianak. Diumumkan dalam launching terakhir satu dasawarsa melalui virtual.

Saya mendapatkan link kegiatan itu, tetapi, kegiatan di kantor membuat saya tidak dapat mengikutinya. Karena itu apa yang disampaikan di sana hanya dari “mendengar” dan membaca.

Tapi walau begitu, saya dapat rasakan kesedihan ketika membaca tulisan salah satu perintis Club Menulis Dr. Yusriadi; berjudul “Pusara Club Menulis IAIN Pontianak”.
Saya teringat teori kebijakan publik yang diajarkan dosen di kampus. Sebuah kebijakan harus didukung dengan kebijakan lain agar berjalan maksimal. Jika kebijakan berjalan sendiri, dia akan pincang.

Baca Juga:  Prodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAIN Pontianak Bahas Pendidikan Ahlak

Club Menulis berjalan tertatih-tatih setelah penggagas program tak lagi duduk di posisi semula dan mengawalnya dengan kebijakan beasiswa dan dukungan moral. Kabarnya, sudah lama tidak ada prioritas untuk Club Menulis sekalipun produknya telah menjadi kebanggaan bersama –dipamerkan dan disebutkan dalam banyak kesempatan dan forum.

Walaupun tertatih, club masih bisa jalan. Masih lahir karya-karya. Club Menulis tetap menjadi wadah lahirnya karya dan menumbuhkembangkan budaya akademik. Sebenarnya, hingga hari ini, hingga terpendam dalam pusaranya.
Salam ta’zim dari alumni Club Menulis. (*)

Written by Ambaryani

Ambaryani, Pegawai Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Buku berjudul; 1. Pesona Kubu Raya 2. Kubu 360 adalah buku yang ditulisnya selama menjadi ASN Kabupaten Kubu Raya

turiman

APAKAH OTORITARIANISME ?

dr leo sutrisno

Nona ‘high class’