Oleh: Zainal Aripin
“Tolong ceritakan pengalaman pertemuan kemarin dengan siswa SMA dari Sambas,” kata Pak Yusriadi saat mengawali perbincangan pada acara pertemuan rutin di Club Menulis, Selasa (19/12).
“Silahkan Bang Herman ceritakan pengalaman kemarin pada kami,” lanjutnya.
Herman memulainya. “Mereka itu … berkesan dengan Club Menulis,” kata Herman.
“Mereka lebih nyaman berkomunikasi dengan Tijah, karena mereka sama- sama dari Sambas”, sambungnya.
Hermana bercerita banyak tentang pengalamannya bersama remaja berseragam putih abu-abu kemarin di Club Menulis.
Sambil Herman menceritakan peristiwa di Club Menulis, Pak Yusriadi menggerak-gerakkan jari-jarinya. Saya paham maksudnya, maklum saja ketika Herman menceritakan peristiwa kemarin ia banyak menyebutkan kata itu.
“Udah Man?” tanya Pak Yusriadi.
“Sudah Pak,” kata Herman sambil mempersilakan Katijah untuk menyambung ceritanya.
Kejadian ini mengingatkan saya pada seorang teman dan masa lalu. Kejadian lama kembali terulang pada hari ini. Dulu kawan saya kalau ia berbicara dalam lima menit, ia bisa mengulang kata ‘ e’ sebanyak 50 kali. Tapi Herman tidak sampai segitunya. Itu semua tidak penting bagi saya.
“Sudah itunya Man?”, gurau Pak Yus lagi.
“Sudah Pak”, kata Herman.
Disadari apa tidak oleh Herman, tapi gelak tawa memecah suasana ruangan Club Menulis. Semua orang punya ciri masing-masing dalam berbicara.
