Mengapa Masjid buat sekolah, dari TK sampai S3 nantinya, ya untuk mendidik generasi jamaah. Basisnya waqaf, jadi masuknya bisa gratis. Tidak membebani.

Mengapa masjid sedang pembebasan lahan dan kerjasama dengan beberapa pengusaha property? Karena Kiyai sebagai Sultan pengasuh ummat memikirkan ketersediaan hunian bagi jamaah, terutama SDM internal masjid.

Mengapa Masjid membebaskan hektaran lahan di Kalimantan Barat? Karena Masjid memikirkan ketersediaan pangan untuk jamaah.

*

Ini foto linimasa natural dari mas Yudi Dan Firda Paskas Jogja yang sedang studi banding ke Masjid Kapal Munzalan.

Bisa dilihat bagaimana ibu-ibu mengantri sembako. Ini bukan kegiatan selebrasi sekali setahun. Untuk sekedear jepret letak di mading masjid. Ini kegiatan pekanan insyaAllah. Tiap jumat masjid bagi sembako.

Spirit Gerakan Sembako Jumat ini adalah arahan dari Kiyai Luqman yang sedang digarap bro Rangga Wibawa di Bogor. Kak Nirwana Tawil juga melakukannya secara personal di Balikapapan, Sleman dan Makassar. Kerjasama dengan masjid-masjid.

Jadi masyarakay dhuafa dirawat oleh masjid. Diperhatikan oleh masjid. Masjid hadir solve the problem.

Artinya beginilah masjid seharusnya memposisikan diri.

Beginilah Imam Masjid seharusnya memerankan fungsi di masyarakat : “MENGASUH UMMAT”, – merawat rakyat –

Rakyat itu bukan slogan “orang kiri”, rakyat itu serapan bahasa arab yang artinya harus di rawat. Harus di ri’ayah.

*

Maka kembali lagi ke beberapa rangkaian tulisan saya pada beberapa momen terakhir ini,

Negeri ini butuh SULTAN. Sultan yang memutuskan untuk mengabdi merawat ummat dengan segenap daya dan upayanya.

Ada 85.000 desa di negeri ini. Ada 270 juta rakyat. Anggaplah kita butuh 100.000 titik kesultanan masjid, itu masing-masingnya cukup kelola 3.000 jamaah, sudah cover semuanya.