Masjid Kapal Munzalan bahkan melayani dan membagi bantuan ke masyarakat non muslim di sekitar masjid. Gak masalah kok. Boleh kita rawat juga. Tetap dengan agamanya masing-masing gak papa.

Maka kembali lagi ke gagasan utama,

Negeri ini butuh 100.000 Sultan muda. Pemimpin lokal yang memimpin komunitas kecil, di wilayah fokus terbatas, maka dengan demikian potensi dan kepengurusannya akan maksimal.

1 Sultan muda mulai membangun masjid. Sang sultan mendorong tegaknya masjid, mengajak ummat sujud di masjid.

Setelah itu Sang Sultan mendidik ummat, memimpin halaqah subuh, mengajarkan Al Quran, memberikan inspirasi bagi masyarakat.

Setelah itu Sang Sultan menyatukan ikatan sosial, dalam balutan jamaah Masjid Kesultanan. Menjadikan jamaah sebagai warga yang harus dirawat dan ditumbuhkan.

Setelah segenap potensi kekuatan jamaah diberdayakan dan digerakkan untuk sama-sama membangun komunitas internal jamaah. Dari jamaah, kembali ke jamaah.

Yang bisa manajemen duduk di manajamen.
Yang bisa nukang ya jadi tukang, bantu bangun infrastruktur.
Yang bisanya ngajar ya ngajar.
Yang bisanya masak ya masak.
Yang bisanya digital online sales ya bantu jualan produk masjid.
Yang bisa berproduksi ya dibantu supaya bisa berproduksi.

Lalu..m

Anak-anak jamaah maajid disediakan pendidikan gratis.

Warga yang sudah berkarir di pekerjaan dan bisnis ditambah kompetensinya, ditingkatkan kapasitasnya.

Ibu rumah tangga jamaah masjid diberi pembekalan keterampilan. Dimaksimalkan potensinya, tanpa harus meninggalkan hunian atau kawasan.

Anak-anak muda usia produktif dibekali dengan kompetensi skill yang jelas untuk hidup.

Asset waqaf masjid digerakkan sebagai platform ekonomi jamaah. Bisa jadi perkebunan, pertanian, industri pengolahan makanan.

Divisi usaha masjid bisa membangun pusat distribusi barang untuk “memasukkan devisa dagang” kedalam pusaran ekonomi masjid.