Ketika sempat datang ke Ulu Boyan tepatnya ke Nanga Jemah, saya seperti dibawa masuk ke dalam dunia keladi. Orang di sana sedang memanfaatkan kesempatan demam keladi orang kota. Keladi-keladi yang selama ini tumbuh terbiar di hutan, dibawa pulang, dimasukkan ke dalam polybag, dan siap menunggu pembeli dari kota. Sudah ada orang yang membeli. Satu keladi dengan satu daun Rp5 ribu. Dua daun Rp10 ribu, dan seterusnya… Ada jenis keladi tertentu diharga tinggi.
Warga merasa sangat bersyukur dengan munculnya virus keladi ini. Maklum, keladi menjadi tambahan penghasilan bagi mereka.
Tentu demam ini juga membuat saya merasa aneh dan geli (lucu) juga. Aneh… Keladi hutan dibeli. Aneh lagi barang yang tumbuh alami di hutan, yang pernah diperhatikan, tiba-tiba bernilai tinggi.
Bahkan yang membuat saya senyum-senyum, gara-gara demam keladi, saya mencoba menyusuri belukar di belakang rumah. Di sana ternyata banyak juga jenis keladi. Kami—saya dan beberapa teman, memperoleh dan mengambil enam jenis keladi. Tapi sayangnya, dari enam jenis itu hanya satu yang punya nama: keladi rusa’. Jenis keladi yang berdaun lebar dan lembut, yang diumpamakan daun telinga rusa. Saya mencoba bertanya pada orang-orang yang sempat ditemui, mereka juga tidak tahu nama keladi-keladi itu.
