“Cukup ke laok ye ii Bang Long?”
“Cukup, Umak pun madahkan berapi ajak yang dibanyakek. Die bawak tempuyak,” mendengar ucapan Bang Long, aku merasa lega.
Aku mendekat ke kuping Bang Long seraya berbisik.
“Kite sian baras”.
Penuh tanda tanya di raut wajah Bang Long.
“Seloow, itok o nak malli ke warung dakat sie,” ujarku.
“Cukup ke daan duitnye?”
“Cukup,” jawabku sambil menunjukan uang yang kugenggam.
“Malli baras jak, laok usah. Umak Bang Long orang paling ngerati yewee,” ujar Bang Long lagi.
Berbicara tentang ibu, aku teringat ini ibuku menelponku sambil berleter tanpa sempat mengucap salam. Salahku memang, ketika itu aku tidak memunyai pulsa untuk membalas pesannya. Lagi pula ia hanya bilang seperti biasa bulan ini belum bisa mengirim uang. Lalu besoknya beliau mengirim pesan lagi.
“Ape kabar Jah, balik ke daan taon baru tok?”. Ingin sekali aku membalasnya apa daya pulsa tak cukup, lalu kukirim pesan lewat Facebook ke adikku, untuk bilang kepada ibu bahwa aku baik-baik saja, tidak pulang tahun baru, dan tak punya pulsa untuk membalas pesannya. Pesanku terkirim, adikku juga membalas “Ok”.
