Oleh : Khatijah
Sore itu, sangkar burung pleci berjejer di teras rumah. Seperti biasanya ketika senja memulai memamerkan jingganya begitu juga Bang Long memamerkan pleci kesayangannya di teras rumah untuk dimandikan. Di seberang jalan, ibu sixth sense, duduk santai di terasnya mendengar nada yang dihasilkan oleh beraneka ragam burung milik suaminya. Kulihat di parkiran rumahnya belum ada mobil, pertanda suaminya belum pulang dari dinas.
Bang Long tersenyum melihatku pulang awal — tak seperti biasanya ke rumah, aku tak tau apa makna senyumnya itu. Tidak kubalas senyumnya, aku hanya terdiam sembari menstandarkan motor di depan rumah. Bang Long segera mendekatiku lalu berbisik.
“Bapak, same Umak Bang long nak ke sitok”.
“Haah, bile?” ucapku dengan terkejut. Karena rasanya mendadak sekali.
‘Itok udah di Singkawang”.
Hhhhh, aku hanya mendesahkan nafas dan segera masuk untuk mengecek rumah, pergi ke dapur mengecek cucian piring, meja tamu yang biasanya penuh dengan segala macam benda tak jelas. Kulihat semuanya sudah bersih, lauk serta sayur juga sudah tersedia rapi di meja makan. Kulihat lagi kompor, tak ada tempat nasi, lalu kubuka lemari tempat biasa kami menyimpan beras. Ternyata beras masih kosong.
Aku segera keluar rumah, Bang long masih bersiul memancing plecinya untuk berbunyi.
