in

Melihat Gerhana Bulan Super dari Rumahku

Oleh: Saripaini

19:43 aku baru selesai membuat adonan kue. Seperti biasa TV menyala, tapi tidak sedang nonton sinetron. Sebenarnya aku masih sibuk di dapur tapi telingaku masih bisa difungsikan. Ya, malam ini aku sengaja membajak siaran TV untuk memperoleh informasi mengenai gerhana bulan. Kali ini bukan gerhana bulan biasa, menurut informasi yang kudengar bahwa malam ini tepatnya 31 Januari 2018 bulan akan tampak 14 kali lebih besar dari biasanya. Ini fenomena langka.

“Di Jakarta umat Islam telah melakukan salat gerhana tepatnya di masjid Istiqlal Jakarta.” Aku tahu lewat TV.

“Di Ternate bulan tampak bulat tidak lagi dua dimensi tapi tiga dimensi.” Sama aku tahu lewat TV pada pukul 19:44.

Tentu saja aku penasaran dan ingin menyaksikan secara langsung, aku keluar di teras ada Laras adikku sedang menyulam di atas kain biru, katanyanya ingin menyaksikan gerhana bulan. Tanpa berkomentar aku mengubah sorot mataku ke langit. Tapi langit tampak sepi tak ada bulan kecuali satu dua bintang, mungkin tertutup oleh awan atau gerhana bulan tengah berlangsung. Aku tak tahu. Dan tak ada yang bisa ditanya, percuma nanya Laras pasti dia jawab tidak tahu atau bisa jadi.

Sekarang 20:45 aku tengah menyalin catatan kecil yang kutulis tadi. Pintu telah kututup, karena yang ditunggu tak ada.

“Allahuakbar… Allahuakbar,” Tiba-tiba terdengar suara teriakan menyeru Allah. Tak salah lagi pasti gerhana bulan benar-benar telah berlangsung. Tak menunggu waktu lama kau meninggalkan laptopku dan bergegas keluar.

Ternyata itu suara pak H. Marzuki tetanggaku. Tak hanya aku, adik, emak dan datok yang keluar rumah, bang Agus dan anaknya juga keluar setelah mendengar suara pak H. Marzuki. Setelah berkali-kali ia takbir dan kemudian mengatakan “Bangon pokok-pokokan, bebuah,” teriaknya dengan logat Madura.

“Jangan Pak Aji, nanti leteh kite nangkapnye,” sahut bang Agus dari halaman rumahnya. Sementara aku tertawa geli mendengar percakapan mereka. Sedangkan kak Tik, menantu pak H. Marzuki mengguyu’ (menggoyang) pohon jambunya yang ada di halaman rumahnya. Ya, menurut kepercayaan masyarakat setempat pohon yang diguyu’ saat gerhana bulan berlangsung maka akan berbuah.

Aku masih melihat bulan dan langit sepi, hanya sedikit yang tampak warnanya merah, dan semakin sedikit dan sekarang tak ada lagi. Sementara datok baru keluar dengan gelas seng dan sendok. Ya, dia mengetok-ngetok sendoknya. Sepertinya ia baru ingat sesuatu.

Punggur Kecil, 31 Januari 2018

Written by teraju

Super Blue Blood Moon, Kuasa Sang Maha Penguasa

Sabine Machl: Kita Tidak Bisa Berdiri Sendiri Menghadapi Terorisme