Sekarang 20:45 aku tengah menyalin catatan kecil yang kutulis tadi. Pintu telah kututup, karena yang ditunggu tak ada.
“Allahuakbar… Allahuakbar,” Tiba-tiba terdengar suara teriakan menyeru Allah. Tak salah lagi pasti gerhana bulan benar-benar telah berlangsung. Tak menunggu waktu lama kau meninggalkan laptopku dan bergegas keluar.
Ternyata itu suara pak H. Marzuki tetanggaku. Tak hanya aku, adik, emak dan datok yang keluar rumah, bang Agus dan anaknya juga keluar setelah mendengar suara pak H. Marzuki. Setelah berkali-kali ia takbir dan kemudian mengatakan “Bangon pokok-pokokan, bebuah,” teriaknya dengan logat Madura.
“Jangan Pak Aji, nanti leteh kite nangkapnye,” sahut bang Agus dari halaman rumahnya. Sementara aku tertawa geli mendengar percakapan mereka. Sedangkan kak Tik, menantu pak H. Marzuki mengguyu’ (menggoyang) pohon jambunya yang ada di halaman rumahnya. Ya, menurut kepercayaan masyarakat setempat pohon yang diguyu’ saat gerhana bulan berlangsung maka akan berbuah.
Aku masih melihat bulan dan langit sepi, hanya sedikit yang tampak warnanya merah, dan semakin sedikit dan sekarang tak ada lagi. Sementara datok baru keluar dengan gelas seng dan sendok. Ya, dia mengetok-ngetok sendoknya. Sepertinya ia baru ingat sesuatu.
Punggur Kecil, 31 Januari 2018
