in

Pencopet di “Pasar Hongkong”

Oleh : Khatijah

Tulisan ini sebenarnya sedikit terlambat karena ceritanya kemaren malam kami anggota Club Menulis bertemu dengan wartawan Kompas di Rumah Makan Beringin. Sebenarnya aku tidak tahu jalannya di mana, maka dari itu kami janjian dengan Bang Man untuk bertemu di kampus untuk pergi sama-sama agar tidak tersesat. Manusia memang hanya bisa berencana tetapi Allah lah yang memberi keputusan, apalagi aku telat padahal sampai di rumah pas Magrib dan langsung mandi lalu melaksanakan kewajiban, tak banyak yang kuperbuat, motor yang biasanya rewel malam itu juga mendukung tak ada lagi acara stat lama, rasanya semua sudah sip dan aku sangat yakin tidak akan terlambat. Tepat di jalan Ekstra Joss, aku teringat sesuatu yang sangat penting. Aku ketinggalan uang. Hingga aku harus putar balik, apalagi inilah yang membuatku telat.

Pukul 19:06 WIB aku sampai di Ma’had Al Jamiah, di sana sudah ada Tuti yang menungguku dan mengatakan bahwa Bang Man telah meninggalkan kami. Tak lama ia menelepon dan menyuruh kami ke Jl Agus Salim untuk parkir. Sampai di jalan tersebut Bang Man menelepon lagi menyuruh kami untuk nyeberang. Entahlah apa yang ada di pikiranku saat itu karena memang sangat macet dan rasanya bukan hal yang mungkin untuk jalan kaki ke seberang. Lalu kulajukan saja motorku, kami menyeberang dan masuk ke kiri seperti yang diperintahkan Bang Man, al-hasil kami sampai ke gereja.

Entah berapa lama kami menunggu di samping gereja, parahnya lagi jaringan tidak mendukung. Singkat cerita ternyata Rumah Makan Beringin tersebut berada dalam keramaian yang mereka sebut “Pasar Hongkong” dalam acara Cap Go Meh. Padat sekali jalanan, di samping kanan dan kiri dipenuhi pedagang– entah apa yang mereka jual, aku hanya sempat sesekali memperhatikan baju tidur yang mereka pajang. Tak lama aku melihat tulisan Rumah Makan Beringin. Tak salah lagi kami melihat Pak Yus dan Bang Man di sana. Setelah masuk kami diperkenalkan dengan 2 wartawan dari Kompas.

Setelah makan kami ditanya-tanya oleh wartawan tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 21 lewat. Entah lewat berapa yang pastinya Rumah Makan Beringin sudah mau tutup, hingga kami mengakhiri pertemuan tersebut.

Di perjalan pulang, tepat di depan gerbang terjadi kekecohan yang kami kira terjadi perkelahian. Tak lama kami melihat petugas yang menggunakan baju seragam berwarna orange membawa satu orang perempuan yang umurnya sekitar 25 ke atas, menggunakan baju merah lengan pendek ketat, celana jeans, rambut panjang terurai berwarna pirang, dan sedikit meronta, di belakngnya disusul lagi oleh petugas yang memegang seorang laki-laki umurnya sekitar 30-an, menggunakan baju kaos berwarna hitam, mukanya sangar, rambutnya di bawah telingga berwarna hitam.

“Cewek yang copet tuh, Dek,” ujar ibu-ibu di sampingku.

“Haa iye ke bu’, bukan yang cowok tu yang nyopet?”

“Bukan, cewek tu yang pencopet. Orang di dalam banyak kehilangan dompet sama hape”. Yah begitulah jika sudah di keramaian ada saja hal yang tak diinginkan, ini juga menurutku bukan hal yang aneh karena sudah sering aku mendengar bahkan menyaksikan jika dalam keramaian terjadi keributan.

Pontianak, 2 Maret 2018

Written by teraju

Watak dan Karakter Menjadi Masalah Besar Bangsa Indonesia

KH Ma’ruf Amin Ingatkan NU Kalbar Jaga Harmoni