Kak Ika dan bang Herman juga diminta untuk berbagi pengalamannya melakukan penelitian di pedalaman Kalimantan Barat. Tentu pengalaman ini juga sebagai ilmu untuk kita semua bahwa meskipun kita berada di tengah-tengah orang yang berbeda suku, agama, bahasa dan budaya tidak harus menjadi penghalang seorang peneliti untuk meneliti wilayah tersebut. Karena, kunci utama semua ini adalah membangun komunikasi yang baik dan keramah-tamahan tentu saja.
Akhirnya, tiba saatnya mereka untuk pulang. Sebelumnya, kak Luna, kak Amel dan satu orang temannya lagi yaitu bang Filips — dia tinggal di Bali, untuk membuat testimoni agar tulisan itu bisa menjadi motivasi bagi kami semua di club dan orang yang melihatnya pun juga ikut termotivasi. Siapa tahu kami bisa nyusul ke Jerman?
Pak Nur Iskandar juga memberikan 2 buku karya Abdul Taib Mahmud, yang penyerahannya dilakukan oleh kak Amel dan kak Luna kepada pak Yusriadi dan Kak Ninda. Sekaligus dari Club Menulis IAIN Pontianak juga memberikan buku sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, kami foto bersama. (Anggota Club Menulis IAIN Pontianak)
