Aku di Bali memenuhi undangan dari Dr. Hwan-ok Ma, sahabat kental asal Korea Selatan di International Tropical Timber Organization (ITTO) yang menggelar side event dalam KTT Perubahan Iklim ini. Aku membawakan makalah tentang dua topik. Pertama, pengalaman mengembangkan program kerjasama lintas batas dalam pengelolaan kawasan konservasi antara Betung Kerihun dan Batang Ai National Park (BANP) dan Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary (LEWS), Sarawak, Malaysia. Kedua, pengalaman WWF ikut terlibat dalam jaringan masyarakat sipil di Kalbar dalam memerangi pembalakan liar (illegal logging).
Aku mengenal Dr. Ma ketika ITTO mendanai program WWF membantu Departemen Kehutanan dalam implementasi rencana pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) tahun 2002 hingga 2005. Walaupun dukungan ITTO sudah selesai, hubunganku dengan Dr. Ma tetap terbangun.
Beberapa kali aku mengirimkan email, update perkembangan program WWF pasca dukungan ITTO. Dia sangat senang, keberlanjutan program bantuan ITTO di Betung Kerihun kemudian diperluas skalanya ke Kapuas Hulu dan tempat lain di Kalbar oleh WWF melalui berbagai sumber pendanaan.
Aku mengiyakan tawaran Ipul. Ikut menjadi bagian dari WWF-Network dalam momen strategis seperti ini tentu saja sangat sayang untuk dilewatkan.
“Tapi ada tugas khusus nih buat Bang Herma dalam kampanye besok. Semoga Abang bersedia ya?” Ipul menyambung pembicaraan kami.
“Tugas apa tuh Pul?” tanyaku balik.
“Memakai kostum penguin. Boleh ya Bang?” pintanya, setengah membujuk.
“Kita lihat besok ya,” jawabku, sambil tertawa, membayangkan suasana kampanye besok.
