Selasa pagi (11/12/2007), tim besar WWF-Internasional yang terdiri dari berbagai negara, sudah menyiapkan diri sesuai pembagian tugas masing-masing. Aku pun mulai memakai kostum penguin. Irza Rinaldi (Oi’), teman dari WWF Kantor Jakarta menemaniku memakai kostum penguin. Sementara Iwan Wibisono, rekanku yang lain, menggunakan kostum siput.

Hari itu mulai memasuki hari-hari terakhir perumusan kesepakatan negara-negara. Dua rekan kami, Fitrian Ardiansyah dan Ari Mochamad, berjuang dari dalam, ikut menjadi anggota Delegasi RI (Delri). Dari mereka kami mendapat update bagaimana alotnya negosiasi antar delegasi.

Di luar, WWF-Internasional berunjuk rasa di depan pintu masuk utama Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali. Penguin adalah simbol kekuatiran warga bumi akibat hilangnya rumah penguin akibat mencairnya es di Kutub Selatan, yang menyimpan tiga per empat cadangan air tawar di bumi. Dan siput menjadi simbol mengingatkan seluruh negara peserta konferensi untuk tidak lamban mencapai kesepakatan, seperti jalannya seekor siput.

Pada salah satu sesi aksi damai ini, digambarkan penguin kelelahan akibat pemasan global ini, kemudian istirahat dan tertidur di kursi, sambil tak berdaya menyaksikan es yang terus meleleh. Juga lelah menunggu lamanya perundingan di ruang konferensi.

“Bang Herma saja ya yang duduk dan tidur di kursi, ya?” pinta Oi’. Aku mengangguk setuju. Beres, Bos.

Oi’ tidak tahu ada skenario yang sedang berjalan. Setelah cukup lelah ikut rangkaian side event ITTO, aku memang kurang istirahat. Tidur adalah obat utamanya.

“Bang, bangun Bang. Acara kita sudah selesai. Sukses besar Bang. Banyak media yang meliput,” kata Ipul, sambil menepuk-nepuk bahuku.