Pengendara yang melanggar aturan lalu lintas akan mengutarakan sejuta alasan agar ia dicap tidak bersalah. Hanya saja, Polantas bukan orang yang mudah tertipu, karena sudah terlatih menghadapi pelanggar aturan. Pernah saya lihat Polantas sedang melakukan razia di persimpangan ketika lampu merah, pengendara yang didapati tidak menggunakan helm menjawab bahwa ia sedang terburu-buru sehingga lupa menggunakan helm. Pernah juga saya dapati pengemudi yang diberhentikan Polantas karena menerobos lampu merah, alasan yang diutarakannya adalah karena ada kepentingan mendadak yang harus segera ditangani. Menurut saya hal tersebut bukan alasan, justru menunjukkan keegoisan pengendara itu sendiri karena ingin tetap benar.

Hal yang cukup unik bagi saya ketika pengendara didapati Polantas memutar balik arah kendaraan melalui jalur yang tidak diperbolehkan. Alasan unik yang diutarakan pengendara tersebut adalah “saya tidak tahu”. Tentu hal ini menjadi sesuatu hal yang lucu, sebab rambu-rambu lalu lintas dalam keadaan baik dan jelas. Kata tidak tahu memang menjadi alasan yang dianggap pelanggar lalu lintas sebagai alasan paling ampuh. Mereka mungkin menganggap bahwa Polantas akan mengampuni ketidak tahuan mereka. Harus kita ketahui, bahwa Polantas tetap polantas, bukan nabi, bukan pula Tuhan Yang Maha Pengampun.

Polantas dan pengendara tak sebanding
Jumlah Polantas yang stand by di jalanan sangat tidak sebanding dengan pengendara, sehingga memang sulit untuk memperhatikan satu persatu pengendara. Saya lihat, biasanya di persimpangan jalan hanya ada 2-5 polantas, sementara pengendara dari masing-masing jalan tampak padat hingga puluhan bahkan ratusan meter jauhnya, apalagi saat pagi dan sore hari sebagai waktu berangkat dan pulang kuliah/kerja.