“Club Menulis mungkin memang sudah waktunya ditutup. Club sudah dilihat seperti virus. Parasit yang perlu dimusnahkan… Lihat, beberapa tahun ini Club memang tidak penting. Sekalipun, baru kemarin saya dihubungi, dipinjami piala untuk akreditasi”.
“Club boleh tutup, tetapi, kita tetap menulis. Kita tetap berkarya. Inilah cara untuk eksis, untuk ibadah, sesuai dengan minat dan keterampilan kita. Jangan cengeng. Mungkin mereka senang melihat kita mati. Tapi, kalau kita ikut mati, kita yang rugi sendiri. Ayo, semamgat. Targetkan setiap minggu menulis, atau setiap tahun ada buku dihasilkan”.

Saya berusaha memecahkan keheningan. Memberikan motivasi sebisanya. Berlagak bijak, walaupun sebenarnya saat menyebutkan parasit… saya seperti ingin meledak, ingin menumpahkan perasaan.

Tapi, wis, sebenarnya jauh sebelum ini para pengurus memang sudah menceritakan banyak hal. Tidak mudah mereka mengambil keputusan. Dan saya tahu mereka menangis bukan menunjukkan diri lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat. Sudah kaya asam garam kehidupan.

Club Menulis, bagi saya, memang garansi mengenai ketangguhan (terutama dalam berkarya). Mereka yang tumbuh dan berkembang serta “lulus” dalam proses di situ memiliki semangat dan kemampuan yang luar biasa. Gerenti punya, kata orang Malaysia.

Tetapi, kini, “benda” yang bisa menjadi garansi itu sudah tiada. Dikuburkan dengan tangis kesedihan pengurusnya.
Selamat tinggal (*)