Batu Ampar adalah salah satu Desa yang pada era 80-an punya nama besar, ini yang saya sebut dengan “Masa Kejayaan” karena dikenal sampai ke Eropa, faktanya memang banyak kapal asing selalu mangkal dan berlabuh persis di sungai yang berhadapan langsung dengan pula Desa Batu Ampar yang dikenal dengan Pelabuhan Internasional Teluk Air. Tak jarang juga beberapa kapal asing tersebut juga berlabuh di persimpangan sungai yang berhadapan langsung dengan pulau Teluk Air, sehingga wajar saja Desa Batu Ampar dulu dikenal sebagai daerah penghasil kayu terbesar didukung dengan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di pinggiran sungai di wilayah Desa Batu Ampar. Sebut saja PT. Kalimantan Sari, perusahaan paling besar tahun 80-an. Ketika PT. Kalimantan Sari tutup bermunculan perusahaan-perusahaan yang juga fokus pada pengolahan kayu seperti PT. Bamico (Dusun Sungai Limau), PT. MKD (Dusun Tanjung), PT. Bumi Raya Group (Dusun Mastura sekarang Dusun Gunung Kruing), PT. Sinar Timur, PT. Aria Jaya, PT. Satya Dhaya Raya (SDR), PT. Hutan Raya, dan PT. Lapan-Lapan.

Merefleksi kembali ingatan masa kecil yang luar biasa indah, asyik dan menyenangkan, tentu saja sebagian dari kita saat ini tidak akan pernah percaya kalau dulu “Kampung Teluk Air” lebih besar dan lebih ramai dilihat dari kuantitas penduduk dan aktivitas perusahaannya karena sebagian besar perusahaan-perusahaan tersebut berdomisili di Teluk Air.