Rasa sedih dan air mata pun tak dapat saya bending melihat tangan Papa yang kini sudah cacat. Ada beberapa ruas jari yang harus dioperasi, sebab kalau tidak dilakukan akan mengakibatkan infeksi. Saya tak dapat membendung sedihnya hingga saat ini. Namun, dia malah tersenyum dan sempat-sempatnya membuat lelucon agar saya bisa tertawa.
Bagi saya, dialah sosok ayah yang luar biasa. Tubuhnya sekuat trailer, namun hatinya selembut kapas. Apapun dilakukannya untuk anak dan istrinya. Maka, tidak heran apabila saya menggelarnya dengan “Si Manusia Trailer”.
Saya juga sangat bersyukur memiliki Papa yang selalu dapat memberi dukungan secara langsung maupun melalui doa. Saya juga termasuk orang yang beruntung dapat merasakan kasih sayangnya. Saya pun tidak dapat membalas kerja keras beliau selama ini.
Saya hanya berharap, lindungan Allah selalu di sisi beliau dan rahmat-Nya selalu menyertai setiap langkahnya mencari rejeki yang Dia berikan. Amin Ya Rabbal’alamin.
