Oleh: Novie Anggraeni
Beliau biasa dipanggil Wak Sa’e. Wanita paruh baya yang dianungerahi banyak anak dan cucu. Setiap hari, beliau bekerja sebagai pedagang kaki lima di Pasar Puring, menjual umbi-umbian, kelapa, pisang dan masih banyak yang lainnya.
Sehari sebelum ke pasar, di bawah terik mentari, Wak Sa’e pergi ke kebun untuk mencari ubi kayu serta daunnya. Selain itu, kadang ia juga memesan ubi dengan orang yang memiliki ubi, apabila stock ubi kayu miliknya tidak cukup atau ubi kayu itu masih terlalu muda untuk dicabut atau dipanen.
Kadang, ia juga menyusuri hutan di belakang rumah ditemani sang anak atau cucu untuk mencari kelapa atau sekedar mengumpulkan jamur cendawan yang tumbuh di pohon yang sudah mati. Apapun, asalkan itu bernilai dan ia dapat membawa rupiah.
Hari berikutnya, saat subuh, sebelum adzan terdengar, Wak Sa’e sudah bersiap untuk pergi ke pasar bersama teman-teman sesama pedagang yang lain menggunakan jasa angkutan mobil pickup. Mereka sampai di pasar.
Seperti pasar pada umumnya, suara riuh antar pembeli dan pedagang yang melakukan tawar-menawar tak terhindarkan. Belum lagi suara senda gurau antara Wak Sa’e dengan teman-teman pedagangnya, yang dirasa mampu menghilangkan sedikit penat di badan.
