Community

Wak Sa’e, Kisah Pedagang Kaki Lima

Wak Sa’e, Kisah Pedagang Kaki Lima

Wak Sa’e jarang sekali menetapkan harga dagangannya kepada pelanggan. “Terserahlah mau bayarnye berape!” ucapnya jika ada pelanggan yang bertanya harga.

Ataupun, “Macam harge biasenye yak!” Kalimat itu yang selalu saja diucapkan sambil bibir mengukir senyum. Tidak ada paksaan.
Wak Sa’e mengharapkan sedikit rupiah untuk membeli kue dan ikan, untuk anak cucunya yang sudah menunggu kedatangannya di rumah.

Dalam berdagang, di saat hujan datang, Wak Sa’e kalang kabut mengangkut dagangannya agar terhindar dari hentaman hujan. Air yang mengguyur tubuhnya pun ia keringkan seadanga dengan kain yang sudah ia simpan di keranjang miliknya.

Kala matahari mulai menyingsing. Wak Sa’e dan teman-temannya sudah mulai kehabisan barang dagangannya karena sudah laku terbeli. Mereka siap pulang.

Setelah membeli kue, ikan dan sayur-mayur seadanya, ia dan teman-temannya bersiap kembali ke rumah masing-masing dengan menggunakan jasa angkutan oplet.

Oplet yang ia tumpangi tiba di depan rumah, cucu-cucunya pun berhamburan sambil berteriak, “Nenek udah balek, nenek udah balek!” Kalimat itulah yang mereka ucapkan, sedangkan langkah kaki sang cucu berlari menghampiri neneknya dengan suka cita. Tangan kecil mereka dengan berusaha membantu nenek membawa barang dagangannya. Meskipun, si cucu tahu bahwa ia tidak akan mampu, tapi ia tetap menguatkan diri.