Di Indonesia sendiri, para guru diminta untuk mengajarkan nilai utama untuk penguatan karakter, melalui pendidikan karakter inilah akan menghasilkan didikan yang bermoral dan berpotensi menjayakan Indonesia. Seperti yang dipublikasikan oleh media online Republika.co.id, penguatan pendidikan karakter (PKK) tersebut yaitu nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Kelima nilai utama ini diminta pengajarannya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tujuannya adalah menumbuhkan anak-anak generasi emas.

Dengan demikian, sudah sepantasnya jasa-jasa guru terhadap anak didik mereka diberikan apresiasi. Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan, “Tidak ada satupun orang sukses di dunia ini yang lepas dari sentuhan guru. Guru rela menjadikan muridnya menjadi orang sukses, bahkan ikhlas menjadikannya lebih sukses daripada anaknya sendiri.” Guru adalah pahlawan penindas ketaktahuan dan belantara kebodohan, mereka para pejuang yang senantiasa membagikan pengetahuannya.

Ada fenomena yang menarik di tengah masyarakat kita, beberapa kalangan menganggap bahwa menjadi guru di zaman sekarang kurang diminati, pasalnya banyak perguruan tinggi atau kampus yang sudah mencetak lulusan muda dan tersebar dimana-mana. Sehingga kebebasan aktualisasi dan cita-cita seseorang tergadaikan oleh stigma demikian. Padahal sadar atau tidak, seiring dengan berjalannya masa dan perkembangannya, guru-guru yang lebih dahulu mengabdi kepada masyarakat akan dituakan oleh umur dan berkurangnya produktivitas. Sehingga dengan semakin banyaknya lulusan-lulusan guru baru adalah sebagai pengganti dan menambal ketidakproduktivitasan tersebut.