Oleh: Nur Iskandar
Tetiba tokoh penting di bidang pembinaan antarbudaya (intercultural learning) Asmir Agoes dari Jakarta telepon. Bertanya tentang pengajuan Sultan Hamid II Alkadrie Pahlawan Nasional. “Sewaktu SMP sebelum berangkat ke AS dalam program AFS tahun 1961 di ruang pelajaran sejarah, guru menyebut Sultan Hamid II itu pengkhianat negara. Sekarang kita baru tahu bahwa Sultan Hamid II Alkadrie adalah sang perancang lambang negara Garuda Pancasila. Saya jadi bertanya-tanya apakah benar Beliau pengkhianat negara, sedangkan jasa jasanya luar biasa bagi bangsa dan negara”. Begitu rasa penasaran pria kelahiran Sumatera yang bersahabat dekat dengan sastrawan angkatan 66 Taufik Ismail serta tokoh pendidikan Indonesia yang kini koordinator Unicef Prof Dr Arief Rahman, M.Pd.
Saya menjelaskan 1/1. Tanya jawab. Tanpa terasa dua jam! Kuping ini sampai panas saking berdendang lagu sejarah nan lawas.
Asmir Agoes mafhum. Dia pun berwasiat, “Sebelum saya wafat, saya bermunajat agar Sultan Hamid II Alkadrie sudah dapat ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional atas jasa jasanya yang sangat besar dan luar biasa bagi bangsa dan negara Indonesia. Pertama lambang negara. Kedua, pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dari Belanda melalui Konferensi Meja Bundar.
